Puisi Roman Picisan : Cinta Dalam Hati
Wardan Word menyajikan puisi cinta, puisi sedih, puisi lucu, puisi agama, puisi sosial, puisi indonesia, puisi
binatang,
dan puisi sahabat.
Cinta Dalam Hati
pengujung pebruaritubuh waktu serasa dikebiri
segenap rasa dan karsa tulus
menjadi mata pisau yang dihunus
istana pasir selesai dipahat
meski indah hanya sesaat
tetap saja batu karang
yang menjadi pemenang
langit hitam senyum jingga gemulai
memudar di sapu badai
ombak tak pernah kehilangan gemuruh
bila laut tak pernah kering dan keruh
di sanalah anak -ombak bergelombang
petang berlalu lalang kemudian pulang
mengulum pasir
tertelan di pinggir bibir
berserak
seorang perempuan yang tersesat
di gigil rindu yang menjerat
ia mengikat dirinya sendiri
menikam nadi dengan duri
ia mencekik setiap lekuk tubuhnya
ia lebam mati ribuan kali di tikam kata
ia tergeletak
jejak senyumnya terserak
malam- malam telah membelah
dingin menyergap tubuh yang lelah
ada kata-kata serupa mantra
di terpa angin dari utara
menghunuskan pedang tajam
menyayat luka malam
menyisakan hujan di tepi telaga
bukit cemara tempat bermukim senja merah saga.
orang -orang membaca
luka-luka di kain perca
satu demi satu menusuk
basa basi kian membusuk
mereka menjahit dengan jarum waktu
dan tetap saja koyak di atas batu
api menyala di atas tungku
melehkan segala keakuanku
bergegas
mari menanam di lahan
ladang amal yang dibentangkan tuhan
sebab diri sebutir debu
terbakar menjadi abu
merawat pohon doa tumbuh
kelak tempat berteduh
sirami dengan dzikir agar rindang
kelak pulang dan dibangunkan dengan tenang
istana pasir selesai dipahat
meski indah hanya sesaat
tetap saja batu karang
yang menjadi pemenang
langit hitam senyum jingga gemulai
memudar di sapu badai
ombak tak pernah kehilangan gemuruh
bila laut tak pernah kering dan keruh
di sanalah anak -ombak bergelombang
petang berlalu lalang kemudian pulang
mengulum pasir
tertelan di pinggir bibir
berserak
seorang perempuan yang tersesat
di gigil rindu yang menjerat
ia mengikat dirinya sendiri
menikam nadi dengan duri
ia mencekik setiap lekuk tubuhnya
ia lebam mati ribuan kali di tikam kata
ia tergeletak
jejak senyumnya terserak
malam- malam telah membelah
dingin menyergap tubuh yang lelah
ada kata-kata serupa mantra
di terpa angin dari utara
menghunuskan pedang tajam
menyayat luka malam
menyisakan hujan di tepi telaga
bukit cemara tempat bermukim senja merah saga.
orang -orang membaca
luka-luka di kain perca
satu demi satu menusuk
basa basi kian membusuk
mereka menjahit dengan jarum waktu
dan tetap saja koyak di atas batu
api menyala di atas tungku
melehkan segala keakuanku
bergegas
mari menanam di lahan
ladang amal yang dibentangkan tuhan
sebab diri sebutir debu
terbakar menjadi abu
merawat pohon doa tumbuh
kelak tempat berteduh
sirami dengan dzikir agar rindang
kelak pulang dan dibangunkan dengan tenang

Comments
Post a Comment