Puisi Cinta UntukMu Tuhanku Yang Perkasa
UntukMu Tuhanku Yang Perkasa
Dalam mengemudikan biduk bahtera hidup
Aku menjadi kapten atas bahteraku
Sekaligus pemegang tapuk kemudi kemanapun layar berkembang
Melintas samudra raya dengan aneka gelombang pasang dan surut
Aku menjadi kapten atas bahteraku
Sekaligus pemegang tapuk kemudi kemanapun layar berkembang
Melintas samudra raya dengan aneka gelombang pasang dan surut
Saat di tengah lautan lepasnya
Yang terlihat hanya bulatnya bumi tanpa tahu arah berkiblat
Kompas yang terkalung di leherku
Yang memberi santunan percaya diriku hanya hiasan belaka
Yang terlihat hanya bulatnya bumi tanpa tahu arah berkiblat
Kompas yang terkalung di leherku
Yang memberi santunan percaya diriku hanya hiasan belaka
Ketika angin ribut memutar tujuh keliling kepala bahteraku
Gugusan bintang sebagai isyarat komandoku juga tak selalu hadir memberi petunjuk
Terpental oleh siang tanpa hitam gelapnya angkasaku
Bahkan saat kutunggu malam demi menjemput cerahnya pesta bintang
Empat jangkar yang aku turunkan sia sia belaka oleh panen kabut
Gugusan bintang sebagai isyarat komandoku juga tak selalu hadir memberi petunjuk
Terpental oleh siang tanpa hitam gelapnya angkasaku
Bahkan saat kutunggu malam demi menjemput cerahnya pesta bintang
Empat jangkar yang aku turunkan sia sia belaka oleh panen kabut
Aku diam seribu bahasa
Desiran nafasku menimang reka
Logikaku pupus di persimpangan jalan menuju roma
Inilah persimpang jalan yang digelar oleh Sang Kuasa
Aku tak bisa tentukan kemana arah kompasku menuju daratan bersurga
Desiran nafasku menimang reka
Logikaku pupus di persimpangan jalan menuju roma
Inilah persimpang jalan yang digelar oleh Sang Kuasa
Aku tak bisa tentukan kemana arah kompasku menuju daratan bersurga
Aku benar benar sendiri
Hanya jiwaku yang tertuju jelas ke arah aras Sang Kuasa
Dengan menanggalkan semua logikaku
Jiwaku berkelana ke masa bocahku
Hanya jiwaku yang tertuju jelas ke arah aras Sang Kuasa
Dengan menanggalkan semua logikaku
Jiwaku berkelana ke masa bocahku
Saat aku masih putih di tabularasaku
Agar paham dan memahami bahasa Sang Kuasa
Karena aku sebagai insani tidak pernah paham bahasa Sang Khaliqku
Sama seperti para penganut samawi
Agar paham dan memahami bahasa Sang Kuasa
Karena aku sebagai insani tidak pernah paham bahasa Sang Khaliqku
Sama seperti para penganut samawi
Berjalan menurut ejakan naluri kemanusiawian
Bahteraku akan segera terkaram dalam pusaran samudra
Atau ragaku akan kerontang oleh habisnya air tawar pelarut butir racunku
Aku serahkan kemudiku pada Sang Kuasaku
Bahteraku akan segera terkaram dalam pusaran samudra
Atau ragaku akan kerontang oleh habisnya air tawar pelarut butir racunku
Aku serahkan kemudiku pada Sang Kuasaku
Kemudi berjalan menurut isyarat naluri ketuhananku
Aku pasrahkan apa yang terjadi tentang hidupku
Karena sebagai kapten bagi hidupku
Aku harus segera putuskan
Agar tidak tenggelam di dasar bumi dan mati
Aku pasrahkan apa yang terjadi tentang hidupku
Karena sebagai kapten bagi hidupku
Aku harus segera putuskan
Agar tidak tenggelam di dasar bumi dan mati
Empat jangkar kutarik ke atas kelasi
Kuputar putar haluan kemudi bahtera hidupku
Tanpa mengandalakan mata dan kukatupkan kelopak rapat
Segera biduk bahteraku berjalan walau tidak sesuai recanaku
Karena aku yakin Yang Kuasa punya rencana yang tidak aku ketahui
Kuputar putar haluan kemudi bahtera hidupku
Tanpa mengandalakan mata dan kukatupkan kelopak rapat
Segera biduk bahteraku berjalan walau tidak sesuai recanaku
Karena aku yakin Yang Kuasa punya rencana yang tidak aku ketahui
Ada rahasia terselubung di dalam-Nya
Aku harus pecahkan rahasia itu
Karena rahasia itu berkunci pada bahasa Ilahi
Suatu bahasa yang tidak aku pahami
Aku harus pecahkan rahasia itu
Karena rahasia itu berkunci pada bahasa Ilahi
Suatu bahasa yang tidak aku pahami
Dan itu bahasa Roh
Yang para insani tak mampu menjangkaunya
Dan Kini
Bahteraku sedang berlayar dengan teduhnya
Yang para insani tak mampu menjangkaunya
Dan Kini
Bahteraku sedang berlayar dengan teduhnya

Comments
Post a Comment