Puisi Cinta " Rindu Yang Terlarang"
Rindu Yang Terlarang
Ohh,…
Andaikan rindu itu terlarang
ku letakkan rasa pada detak nadi saat kegalauan mulai merambati pelupuk hati
pada keluh angin malam,
Akan ku titipkan sayatan rindu
Untuk mengantarkan selimut resah menuju kelam yang paling sepi.
Jika ada kesan yang tertinggal dari sisa remas jemari terakhir kali,
Semoga jadi kenangan abadi yang tersimpan rapi di laci sanubari,
menggenapi kandungan ratap yang kerap melahirkan sajak-sajak melankoli.
Usah bertanya lagi, rindu itu tetap pergi atau nanti kembali
setidaknya kemarin dia tlah sudi sejenak singgah menyemarakkan pelataran hati sunyi yang lama di tinggalkan oleh sapa dan sua,
tanpa abai perih nurani yang dengan rela atau terpaksa menjadi ‘tumbal rasa’.
Hanya doa,
tak lelah menghibur tiap sendi lara atas lerai sebuah rasa yang pernah kita beri nama,
batas kisah ku-mu dalam bingkai makna.
Meski setiap bangun pagi,
Tak pernah jemu harapku akan hadirmu, rindu
menikmati galur senyummu,
dan mengenyam kelembutan bait puisi dalam seduh secangkir kopi.
Semoga kesah ini terbaca olehmu, rindu. Di lain saat, suatu waktu…
menggenapi kandungan ratap yang kerap melahirkan sajak-sajak melankoli.
Usah bertanya lagi, rindu itu tetap pergi atau nanti kembali
setidaknya kemarin dia tlah sudi sejenak singgah menyemarakkan pelataran hati sunyi yang lama di tinggalkan oleh sapa dan sua,
tanpa abai perih nurani yang dengan rela atau terpaksa menjadi ‘tumbal rasa’.
Hanya doa,
tak lelah menghibur tiap sendi lara atas lerai sebuah rasa yang pernah kita beri nama,
batas kisah ku-mu dalam bingkai makna.
Meski setiap bangun pagi,
Tak pernah jemu harapku akan hadirmu, rindu
menikmati galur senyummu,
dan mengenyam kelembutan bait puisi dalam seduh secangkir kopi.
Semoga kesah ini terbaca olehmu, rindu. Di lain saat, suatu waktu…

Comments
Post a Comment