Puisi Cinta " Dua Hati Yang Bersatu "
Wardan Word menyajikan puisi cinta, puisi sedih, puisi lucu, puisi agama, puisi sosial, puisi indonesia, puisi
binatang,
dan puisi sahabat.
Dua Hati Yang Bersatu
Di siniDi teras langit biruku
Aku yang usang
Yang telah melewati berselaksa cinta
Dari beribu kalbu
Menapaki arena rintang di rimba kelana
Akan menabur tutur
Tentang cinta
Cinta lahir oleh suatu hasrat
Cinta jauh berbeda dengan kasih ataupun sayang
Cinta lebih mengedepankan aroma teras teras eros
Terbungkus oleh sinar kasih asmara
Dua pribadi bermaligai murni
Bertutur pada penyatuan dua insani
Menuju puncak mahameru gunung madu
Leburan berjuta ego
Dalam paduan satu jiwa dan juga satu rasa
Itulah hakekat tentang cinta
Di sana
Di jauh kedalaman relung hati
Dua anak manusia sedang memadu kasih
Ada perang ego berbelati
Dari dua kutub yang bermotip
Saling tarik ulur tanpa sudi menekuk lutut
Boros kata berpelotot mata
Kurang memahami magna maligai cinta
Ego berhadapan dengan ego
Lupa bahwa hakekat cinta harus tanggalkan ego
Sehari dua langkah tanpa puji
Setahun seribu tapak merudung racun
Benang merah pun meretak
Putus berkeping bersayat hati
Hancurlah tutur berprasasti
Karna perut buncahkan ego
Dipaksa
Untuk jadi maligai
Neraka bertuai
Wahai yang muda
Yang sedang berada di arena cinta
Atau bagimu yang tua
Yang telah punya cinta bercacat
Mari ke sini
Bukalah mata yang sedang buta
Lebarkan daun bertelinga
Jika engkau ingin punya cinta
Cinta yang berprasasti damai
Yang berlabuh di puncak mahameru madu
Maka duduklah di dekatku
Di pangkuan yang renta
Karena yang renta mengawal berbahtera garam madu
Dan dengarkan tuturku
Cinta itu tidak berkutub utara harusnya
Cinta juga tidak mengarah selatan menengadah
Menapaki arena rintang di rimba kelana
Akan menabur tutur
Tentang cinta
Cinta lahir oleh suatu hasrat
Cinta jauh berbeda dengan kasih ataupun sayang
Cinta lebih mengedepankan aroma teras teras eros
Terbungkus oleh sinar kasih asmara
Dua pribadi bermaligai murni
Bertutur pada penyatuan dua insani
Menuju puncak mahameru gunung madu
Leburan berjuta ego
Dalam paduan satu jiwa dan juga satu rasa
Itulah hakekat tentang cinta
Di sana
Di jauh kedalaman relung hati
Dua anak manusia sedang memadu kasih
Ada perang ego berbelati
Dari dua kutub yang bermotip
Saling tarik ulur tanpa sudi menekuk lutut
Boros kata berpelotot mata
Kurang memahami magna maligai cinta
Ego berhadapan dengan ego
Lupa bahwa hakekat cinta harus tanggalkan ego
Sehari dua langkah tanpa puji
Setahun seribu tapak merudung racun
Benang merah pun meretak
Putus berkeping bersayat hati
Hancurlah tutur berprasasti
Karna perut buncahkan ego
Dipaksa
Untuk jadi maligai
Neraka bertuai
Wahai yang muda
Yang sedang berada di arena cinta
Atau bagimu yang tua
Yang telah punya cinta bercacat
Mari ke sini
Bukalah mata yang sedang buta
Lebarkan daun bertelinga
Jika engkau ingin punya cinta
Cinta yang berprasasti damai
Yang berlabuh di puncak mahameru madu
Maka duduklah di dekatku
Di pangkuan yang renta
Karena yang renta mengawal berbahtera garam madu
Dan dengarkan tuturku
Cinta itu tidak berkutub utara harusnya
Cinta juga tidak mengarah selatan menengadah
Dua kutub dilebur dan dikesampingkan
Satukan arah empat mata menuju terbitnya surya
Jauhi silau berkilau
Tanggalkan pekir berpetir
Karena erat gandeng tanganmu
Adalah jarum kompas masa depanmu
Wahai engkau yang berwajah putih
Dan juga engkau yang punya rupa hitam
Jangan mendominasikan warnamu bermasing
Karena maligai madumu
Di beranda masa depanmu
Bukan putih atau hitam
Tap hasil perpaduan hitam putih berpelangi
Itulah yang disebut irama masa depan
Dan janganlah kau cari cinta di relung hatimu
Tapi ada di seribu langkah masa depanmu

Comments
Post a Comment