Puisi Cinta "Bintang Purnama Malam"
Bintang Purnama Malam
Berdendang pula senyuman sang purnama, menimang
Angin menepi dalam keheningan tanpa siul
Syahdu semarakkan ruang hasrat
Di hamparan sang bumi menyungging bunga merekah
Setelah jeda bulan memerah
Di hamparan sang bumi menyungging bunga merekah
Setelah jeda bulan memerah
Gema dada berdegup penuh harap
Ohh pelantum nikmatku sambutlah
Desahnya
Dari ujung angkasa langit biru
Sang embun gagah berjantan
Menari gemulai di antara pucuk pucuk cemara
Mengibas membelai memeluk dedaun hijau
Angin yang menepi, bangun menghembus sang kuduk
Embunpun luruh larut oleh uap getar rekah bumi
Menyibak memurkakan rinai nafasnya
Menggelombang gerak berkuda liar
Tangan dan kakinya membelit lilit pucuk cemara
Terperaslah tubuh embun torehkan titik air di pucuk cemara
Menggelantung bening
Berkilau biaskan senyum sang bulan
Ahh tahan
Bertahanlah tetesku
Jangan berjatuh ke rekahan bumiku, dulu
Pintanya dengan histeris uraikan embun jadilah kabut
Dan... tes
Titik air menetes tepat di bakal biji, mengeja
Biji tertidur di rekahan kemarau bumi, menetas
Kabut menelusup menutup hamparan bumi dan pucuk pinus
Bumipun tertelungkup menimang regang
Hilang dari peradaban
Pesona hasrat kemarau tiba
Surga bagiku dan juga bagimu
Dan hilang ditelan tirai kabut berselimut
Aku sang embun
Yang telah mencipta bumiku berbatangkara
Dikandungnya tetesku mendayu
Bercengkeram kepusar relung nsdinya
Aku tak pernah tahu batang hidungku terkandung
Karena kabut menyelimut menekuk lutut
Oh dosa apa yang telah kueja
Dan mengantar ke pintu gerbang keterlantaran
Telanjang tanpa sapa
Nerakalah upahku
Dan bagimu
Jangan kau tertawakan aku
Aku akan menebus dosaku
Untukmu bumi kemarauku
Ohh pelantum nikmatku sambutlah
Desahnya
Dari ujung angkasa langit biru
Sang embun gagah berjantan
Menari gemulai di antara pucuk pucuk cemara
Mengibas membelai memeluk dedaun hijau
Angin yang menepi, bangun menghembus sang kuduk
Embunpun luruh larut oleh uap getar rekah bumi
Menyibak memurkakan rinai nafasnya
Menggelombang gerak berkuda liar
Tangan dan kakinya membelit lilit pucuk cemara
Terperaslah tubuh embun torehkan titik air di pucuk cemara
Menggelantung bening
Berkilau biaskan senyum sang bulan
Ahh tahan
Bertahanlah tetesku
Jangan berjatuh ke rekahan bumiku, dulu
Pintanya dengan histeris uraikan embun jadilah kabut
Dan... tes
Titik air menetes tepat di bakal biji, mengeja
Biji tertidur di rekahan kemarau bumi, menetas
Kabut menelusup menutup hamparan bumi dan pucuk pinus
Bumipun tertelungkup menimang regang
Hilang dari peradaban
Pesona hasrat kemarau tiba
Surga bagiku dan juga bagimu
Dan hilang ditelan tirai kabut berselimut
Aku sang embun
Yang telah mencipta bumiku berbatangkara
Dikandungnya tetesku mendayu
Bercengkeram kepusar relung nsdinya
Aku tak pernah tahu batang hidungku terkandung
Karena kabut menyelimut menekuk lutut
Oh dosa apa yang telah kueja
Dan mengantar ke pintu gerbang keterlantaran
Telanjang tanpa sapa
Nerakalah upahku
Dan bagimu
Jangan kau tertawakan aku
Aku akan menebus dosaku
Untukmu bumi kemarauku

Comments
Post a Comment